Keynote Speakers

 

 

 

 

 Prof. Dr. H. Mohammad Mukri, M.Ag adalah Guru Besar bidang Ushul Fiqh (Metodologi Hukum Islam) IAIN Raden Intan Lampung. Ia lahir di Desa Kresno Mulyo, Pringsewu 16 April 1959 dari pasangan H. Wiryosumarto (alm) dan Hj. Silem (alm) yang merupakan transmigran asal Banyumas. Mencari rumput dan memancing ikan di sungai menjadi kebiasan Mukri kecil tiap pulang sekolah. Sebagai keluarga petani dan hidup di kampung, Mukri sudah disibukkan dengan banyak aktivitas. Selain mencari rumput untuk pakan kambingnya, setiap sore ia juga mengikuti pendidikan Madrasah, kemudian malam harinya ia mengaji guna membentengi diri dengan ilmu agama.  

Mukri menempuh pendidikan dasar di Desa Sendangretno Kalirejo Lampung Tengah (1971). Kemudian, dengan tekad kuat dan cita-cita tinggi untuk mengubah hidup dengan pendidikan, Mukri mulai merantau ke Jawa. Pondok Pesantren Langitan Tuban Jawa Timur menjadi tujuan pertama. Selama di pesantren, Mukri giat belajar dan mengaji kitab-kitab Islam klasik hingga tahun 1975. Bait-bait gramatikal Arab Alfiyah pun masih ia hapal, terutama Bab Af’al at-Tafdhil. Di pesantren ini, ia pun bertemu dengan tokoh-tokoh nasioanal yang pernah ia baca di buku pelajaran, Muhammad Nasir, Asmodimejo hingga M Royen ia jumpai. Mukri cukup bangga bisa bertemu orang-orang hebat tersebut dan terus memacunya untuk semakin giat belajar guna mengubah hidup dengan pendidikan.

Atas restu dan rekomendasi Kyai Abdullah Faqih allahuyarham, tahun 1978 Mukri kemudian melanjutkan belajar ke Ponpes al-Munawwir Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH. Ali Maksum. Untuk masuk ke pesantren, Mukri harus mengikuti tes tertulis dan wawancara yang dilakukan langsung oleh sang kyai kharismatik ini. Walhasil, karena dianggap mampu, Mukri diperbolehkan loncat kelas, dan ia pun mengikuti perintah kyainya dengan langsung duduk di Kelas 2 Aliyah. Sosok Mbah Ali Maksum begitu berkesan dalam diri Mukri. Inspirasi dan nilai-nilai hidup ia serap dari tokoh kharismatik NU yang banyak disowani tokoh-tokoh dari berbagai lapisan.

Bersama kawan-kawan santri seangkatannya, seperti Prof. Drs. H. Yudian W. Asmin, P.hD, Mukri melanjutkan pendidikan tinggi di Jurusan Peradilan Agama Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga (kini UIN). Tinggal di Asrama Mahasiswa, Mukri aktif dalam pergerakan kemahasiswaan PMII bersama-sama dengan Dr. Slamet Efendi Yusuf (Wakil Ketua MUI).  

Setamat S-1 tahun 1986, Mukri pulang kampung untuk mengabdikan ilmunya dan membangun kampung halaman. Di samping aktif ceramah, ia juga aktif mengajar di SMP Islam Maarif NU, Sekolah Muhammadiyyah dan beberapa sekolah lainnya di Kalirejo, Lampung Tengah. Mengingat kala itu lembaga pendidikan tingkat SLTA masih sangat minim, maka bersama 5 orang sarjana di kampung halamannya, ia pun memprakarsai pendirian MA Maarif, MA Sendang Agung, dan SMAN 1 Kalirejo.

Tahun 1987, Mukri menikahi Anisah Hafidh, SE. Pertemuannya tidak disengaja, saat ia meminta bantuan Sarjana Ekonomi UII ini sebagai tenaga pengajar di sekolah yang ia rintis. Dari pernikahan ini, Mukri dikaruniai 3 orang putra-putri, yaitu dr. Risa Nourma Aziza (alumni FK UNILA, kin dokter di RUSD Menggala), Ainul Fitri, SE (Mahasiswa Pascasarjana UGM), dan Fuad Muthahari (alumnus ITB).

Pada tahun yang sama, Mukri diterima menjadi dosen di IAIN Raden Intan Lampung. Karir akademik ditapakinya dengan penuh dedikasi. Ia pun dipercaya menjadi anggota senat selama 10 tahun (1990-2000). Untuk meningkatkan kapasitas diri di tengah tuntutan profesionalisme dosen, Mukri lalu melanjutkan jenjang S-2 di IAIN Imam Bonjol (1998) dan mengambil program doktoral di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2006-2010). Jabatan-jabatan akademik di kampus selanjutnya menjadi akrab dengannya, mulai dari PD III Fakultas Syariah (1998-2001), PD I Fakultas Syariah (2001-2003), PR III (2003-2010; 3 periode), Ymt Rektor (2006) hingga jabatan tertinggi sekarang ini sebagai Rektor (2010-2015), dan terpilih kembali untuk periode berikutnya (2015-2019).

Pada masa kepemimpinan Prof. Dr. H. Moh. Mukri, M.Ag (2010-sekarang), sejumlah prestasi mulai diukir oleh IAIN Raden Intan Lampung di level nasional. Pada tingkat internal, dengan keteledanan dan komitmen tinggi, lingkungan kampus ia sulap menjadi kampus hijau nan asri, sehingga menempatkan IAIN sebagai kampus terbersih. Tahun 2011-2013, IAIN Raden Intan Lampung menduduki lima besar dalam penerimaan mahasiswa baru nasional. Dorongannya terhadap dosen-dosen muda untuk berkreasi menghasilkan buah terakreditasinya 2 jurnal ilmiah, yaitu ANALISIS: Jurnal Studi Keislaman (2011) dan AL-‘ADALAH: Jurnal Studi Hukum Islam (2014), KALAM: Jurnal Pemikiran Islam (2015), sehingga menempatkan IAIN Raden Intan Lampung sebagai satu-satunya IAIN se-Indonesia yang memiliki 3 jurnal terakreditasi nasional. Sejak 2012, IAIN Raden Intan Lampung membuka Program Doktor yang merupakan satu-satunya di Lampung.

Pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan, bahkan hingga ke pusat dan luar negeri, menjadi modal bagi Mukri untuk mendapatkan akses. Akses itu ia manfaatkan untuk membangun berbagai kerjasama nota kerjasama dan kesepahaman dengan berbagai lembaga dan badan pemerintah maupun perguruan tinggi, mulai dari tingkat lokal (daerah), misalnya dengan sejumlah pemda, hingga tingkat regional dan internasional. Hubungan dengan lembaga-lembaga donor juga terus dijalin-kembangkan untuk memberikan beragam fasilitas beasiswa bagi mahasiswa, antara  Program BIDIK MISI, BI, PT. Gudang Garam, Bank Syariah Mandiri, Pemda, di samping beasiswa tetap dari Kementerian Agama dan DIPA IAIN Raden Intan Lampung.  Semua ini merupakan ikhtiar bersama dan berkesinambungan untuk mewujudkan IAIN Raden Intan Lampung menjadi kampus unggul yang asri, bernuansa akademik, dan bersuasana religius, yang diminati dan disegani di tingkat nasional.

Di samping sebagai seorang akademisi, Mukri juga dikenal sebagai aktivis dan organisatoris. Keterlibatannya secara aktif dalam dunia organisasi dimulai  di bangku kuliah sebagai Pengurus PMII Cabang Yogyakarta (1984-1986), Ketua PW GP Anshor Lampung (1999-2003), Ketua Pembina KNPI Lampung (2003-2006), Ketua Pimpinan KNPI Lampung (2003-2006), Wakil Ketua KADIN Lampung (2006-sekarang), anggota Tim Seleksi KPU Lampung (2007), anggota Asosiasi Dosen Indonesia Wilayah Lampung (2007-sekarang), anggota FKUB Provinsi Lampung (2007-sekarang), Pengurus Wilayah NU Lampung (2008-sekarang), Koordinator Asosiasi PR III Wilayah Sumbagsel (2008-2010), dan Wakil Ketua Forum Rektor PTAIN  (2011-sekarang).

Kepakaran dan konsentrasinya di bidang metodologi hukum Islam melahirkan sejumlah karya, berupa laporan penelitian, buku, makalah seminar hingga artikel yang tersebar di media massa dan jurnal ilmiah. Di antara buku terpentingnya adalah: Paradigma Maslahah dalam Pemikiran Al-Gazali (Pesantren Nawesea Yogyakarta, 2011), “Benarkah Imam Syafi’i Menolak Maslahah? (Pesantren Nawesea Press Yogyakarta, 2011), “Aplikasi Konsep Maslahat al-Ghazali dalam Problematika Hukum Islam Kontemporer” (Idea Press Yogyakarta, 2012), dan Rekonstruksi Hukum Islam Indonesia: Kontekstualisasi Konsep Maslahah Imam al-Ghazali (2014). 

Tidak hanya piawai dalam tulis menulis, Mukri juga aktif melakukan ceramah dan dakwah masyarakat sejak muda. Puncaknya, pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. tingkat kenegaraan Tahun 1434 H/2013 M di Istana Negara, Prof. Mukri didaulat sebagai penceramah di hadapan Presiden, Wakil Presiden, pejabat-pejabat tinggi negara, dan tamu-tamu kenegaraan dari berbagai perwakilan negara asing. Amanah tersebut menurutnya merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan, baik pribadi, kampus IAIN Raden Intan, dan masyarakat bumi saibumi Lampung secara keseluruhan.